KOMNAS HAM SALAH BESAR DALAM KASUS SEMEN REMBANG

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) beberapa waktu lalu mengirimi surat ke Presiden Joko Widodo sebagai bentuk permintaan agar pabrik semen di Rembang ditutup. Namun, sepertinya Komnas HAM keliru besar. Tindakannya tersebut dinilai salah sasaran mencampuri polemik PT Semen Indonesia di Rembang.

Hal tersebut sampaikan oleh Wakil Sekretaris Jenderal Partai Golkar, Bowo Sidik Pangarso. Ia merasa heran dengan sikap Komnas HAM yang justru tidak melihat dan memahami bahwa mayoritas warga Rembang amat setuju dengan keberadaan pabrik semen. Menurut Bowo, keberadaan pabrik semen Rembang justru membantu meningkatkan perekonomian warga Rembang, lantaran mayoritas warga Rembang mendukung keberadaan pabrik tersebut.

Sebaiknya Komnas HAM memahami masalah terkait dukung dan tolak soal Semen Rembang. Komnas HAM juga harus meneliti lebih jauh apakah memang betul yang menolak Semen Rembang murni semuanya warga setempat atau disusupi orang luar. Mengingat, di balik polemik semen Rembang, ada sebuah persaingan bisnis yang mengerikan.

WARGA REMBANG: KAMI DIKOMPORI GUNRETNO AGAR TOLAK PABRIK SEMEN INDONESIA

Jambipos Online, Jakarta-Puluhan warga Rembang, Jawa Tengah, melakukan unjuk rasa di depan kantor Mahkamah Agung (MA), di Jakarta, Kamis (27/10). Mereka menuntut agar pembangunan pabrik Semen Indonesia tetap diteruskan walaupun MA telah mengabulkan gugatan izin lingkungannya.

Menurut salah seorang tokoh masyarakat Rembang yang ikut dalam unjuk rasa, Farouk Ferdian, bila pabrik Semen Indonesia dihentikanoperasionalnya maka berdampak banyaknya warga di lingkungan sekitar, terutama yang berada di Ring 1, bakal kehilangan pekerjaan.

Dia mengungkapkan, kini diperkirakan ada sekitar 1000 masyarakat Rembang di Ring 1 yang dapat bekerja sebab dibangunnya pabrik Semen Indonesia.

Daerah yang berada di Ring 1 mencakup antara lain Tegaldowo, Timbrangan, Pasucen, Kajar dan Kadiwono. Daerah Ring 1 meruapakan areal terdekat dengan pembangunan pabrik Semen Indonesia.

Farouk mengatakan, kalaupun ada penolakan terhadap pembangunan pabrik Semen Indonesia, mayoritas justru bukan dari masyarakat Rembang asli. Farouk menyatakan, masyarakat penolak pabrik Semen Indonesia merupakan warga Pati.

“Warga Rembang asli yang kontra pembangunan pabrik Semen Indonesia tidak lebih dari 5%, sisanya warga Pati,” tutur dia.

Menurut Farouk, para warga di provokasi LSM Walhi dan JPMK agar menolak pembangunan pabrik Semen Indonesia. Farouk menyebutkan, tokoh di belakang yang memotori terjadinya penolakan bernama Gun Retno.

“Dia itu (Gun Retno) adalalah warga Pati,” ucap Farouk.

Terkait pabrik Semen Indonesia, Farouk mengungkapkan, sebelumnya telah dilakukan sosialisasi menyangkut rencana pembangunan pabrik ke masyarakat sehingga tak ada alasan bila warga Rembang belum mengetahui.

“Sebelum ada pabrik Semen Indonesia, UMR di Rembang hanya sekitar Rp 600 ribu. Namun sejak ada pabrik Semen Indonesia, diperkirakan bisa mencapai Rp 2-3 juta,” Farouk menuturkan. (Rel)