Tokoh Salafi Indonesia “Disemprot” Menteri Bidang Dakwah Arab Saudi Karena Kata Bid’ah

Apa jadinya jika “Wahabi” turun gunung jauh-jauh dari negeri Arab ke Indonesia? Bukannya membuat Da’i-da’i Salafi sumringah karena mendapat ‘amunisi’ baru tapi justru para Da’i terbungkam akibat kebiasaannya selama ini.

Deputi Menteri bidang Da’wah pada Kementerian Urusan Keislaman, Da’wah dan Penyuluhan Arab Saudi Dr. Ahmad Jiilan mengkritisi dakwah Salafi saat berbincang dengan sejumlah aktivis media dan da’i Salafi. Di depan Da’i Salafi itu, Pejabat Kemenag Saudi Ingatkan agar hati-Hati keluarkan kata bid’ah.

Syaikh Jiilan menekankan agar para aktivis dakwah lebih melapangkan dada untuk saling menasihati dan tidak terjebak ke dalam fanatisme kelompok. Salah satu wujudnya adalah membuka diri terhadap orang lain dan memperluas referensi.

“Jangan membatasi diri dengan satu atau dua ulama; satu atau dua buku saja (sebagai rujukan). Pakai juga yang lain! Sehingga ketika ada orang yang hendak mengkritik, mereka tidak mendapatkan celah,”

Syaikh Jiilan menegaskan agar umat Islam tidak mengambil pendapat hanya dari beberapa ulama saja, tetapi ambillah dari ulama di berbagai negeri.

“Saya tidak menyalahkan kalian memakai Syaikh Bin Baz, karena beliau adalah ulama umat, bukan ulama Kerajaan. Tetapi saya ingin kalian juga mengambil ulama Yaman, Mesir, Suriah, dan juga ulama Indonesia (sebagai rujukan),” papar Dr. Ahmad Jiilan

Menurut Syaikh Jillan, sikap hormat harus diberikan kepada ulama Indonesia karena mereka yang menjadi panutan umat.

“Sisi lain yang juga perlu diperhatikan, manusia itu mengikuti ulama negerinya. Seiring dengan penghormatan kalian terhadap ulama Saudi dan lainnya, kalian harus menghormati dan mengambil ilmu dari para panutan umat di Indonesia,” tegasnya.

Syaikh Jiilan berpendapat, bila ada seorang tokoh yang sudah berjasa selama puluhan tahun dalam dakwah Islam, mereka harus dihormati. “Datangilah mereka,” tandasnya.

Belajar dari Sikap Ibnu Taimiyah

Sementara itu, Deputi bidang Media Kementerian Agama Arab Saudi Dr Rasyid Az-Zahrani, yang juga hadir dalam perbincangan itu, menyebutkan sikap mulia Ibnu Taimiyah yang dapat dicontoh. Dalam dakwah Islam, Ibnu Taimiyah telah menghadapi pertentangan kuat dari seorang ahli kalam. Namun ketika orang itu meninggal dunia, Ibnu Taimiyah menanggung biaya hidup istri dan keluarganya. Ia tidak menjadikan orang yang berseberangan sebagai musuh yang harus dibenci, tetapi sebagai peluang dakwah yang berpotensi menerima jalan kebenaran.

Selain itu, penyebaran dakwah Islam juga dihambat oleh fenomena sebagian da’i yang keras dalam bersikap dan menuduh setiap orang yang ia lihat keliru sebagai ahli bid’ah. Selain mempersempit dakwah, tindakan ini menurutnya, mirip dengan orang-orang yang berlebih-lebihan dalam takfir.

“Jangan terlalu mudah menuding; ini bid’ah, itu bid’ah. Bila berlebihan, maka ini akan menjerumuskan ke dalam takfir serampangan (mengkafirkan orang yang tidak berdasar),” ujar Dr. Ahmad Jiilan

Menurut beliau, orang yang banyak manfaat bagi umat selama mereka bagian dari ahli Sunnah, perlu didekati dan dirangkul, bukan dijauhi. Sebab, sempitnya pandangan sebagian da’i itu telah membuat mereka terpecah-pecah dan tidak menyatu.

Maka ini harus dihindari, dan hendaknya berusaha untuk lebih lapang dada dan terbuka. Ia berharap bila umur panjang, tidak lagi menyaksikan perpecahan di antara mereka.

“Saya berharap bila umur panjang, dan kita bertemu lagi dua atau tiga tahun lagi, saya tidak menjumpai lagi perpecahan di antara salafi,” ujar beliau penuh harap.

Berlapang dada terhadap sesama muslim ketika melihat perbedaan adalah salah satu aspek penting dalam penyebaran dakwah Islam. Inilah salah satu poin perbincangan beberapa pejabat Kementerian Agama Arab Saudi, yang ikut dalam rombongan Raja Salman selama kunjungannya ke Indonesia, 1-9 Maret 2017.

Di ruang lobi hotel Ritz Carlton Kuningan, Kamis (02/03), Deputi Menteri bidang Da’wah pada Kementerian Urusan Keislaman, Da’wah dan Penyuluhan Arab Saudi Dr. Ahmad Jiilan yang hadir dalam perbincangan bersama beberapa aktivis dan dai muda Indonesia itu, berbagi pikiran tentang prospek penyebaran dakwah Islam di Indonesia.

Diantara yang hadir pada acara itu adalah Ustadz Badrussalam (Pembina Radio Rodja), Ustadz Muhamamd Elvi Syam (Pembina Surau TV), Ustadz Afifudin Rohaly (Direktur Wesal TV), Ustadz Diding Sobarudin (Sekjen Asosiasi Radio- Televisi Islam Indonesia), dan perwakilan dari Jurnalis Islam Bersatu (JITU).

(Nov/HWMI)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *